WHO: Hantavirus di Kapal Pesiar Diperkirakan Tak Picu Epidemi Besar
WHO memastikan kasus hantavirus di kapal pesiar tidak berpotensi menjadi epidemi besar. Risiko penyebaran dinilai rendah karena virus ini tidak mudah menular antar manusia.
Memuat...
Raja Ampat kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Namun kali ini bukan karena keindahan lautnya yang memukau, melainkan karena ancaman serius dari aktivitas pertambangan nikel yang kian meresahkan.
Raja Ampat, Papua Barat Daya – 6 Juni 2025
Raja Ampat kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Namun kali ini bukan karena keindahan lautnya yang memukau, melainkan karena ancaman serius dari aktivitas pertambangan nikel yang kian meresahkan.
Tagar #SaveRajaAmpat dan #StopTambangNikel menjadi trending di platform seperti X (Twitter), Instagram, dan TikTok sejak akhir Mei 2025, setelah sebuah video drone beredar luas memperlihatkan bukit-bukit hijau di Raja Ampat yang berubah menjadi lahan gundul akibat aktivitas tambang.
Dalam laporan dari lembaga lingkungan Auriga Nusantara, tercatat bahwa dalam lima tahun terakhir, ekspansi tambang nikel di kawasan Papua Barat Daya meningkat hingga tiga kali lipat. Deforestasi, pencemaran air, dan rusaknya habitat laut menjadi dampak nyata dari aktivitas ini. Beberapa wilayah yang sebelumnya masuk zona konservasi kini justru telah memiliki izin eksplorasi dan produksi tambang.
“Kami menangis melihat tanah adat kami digali, hutan kami dirusak. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal identitas dan kehidupan kami,” ujar Yohana Mabel, aktivis lingkungan dari Raja Ampat.
Meski Mahkamah Konstitusi RI telah mengeluarkan putusan pada Maret 2024 yang memperkuat perlindungan hukum untuk pulau-pulau kecil, namun kenyataannya aktivitas tambang masih terus berjalan. Banyak pihak menduga lemahnya pengawasan serta keterlibatan kepentingan investor menjadi faktor utama di balik terus berjalannya eksploitasi tersebut.
Warga lokal dan aktivis kini mendesak pemerintah untuk mencabut izin-izin tambang yang berada di wilayah konservasi, serta menuntut evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan tambang di Papua Barat Daya.
“Kita bangga Raja Ampat masuk daftar destinasi dunia, tapi percuma kalau nanti hanya tinggal kenangan karena keserakahan,” tambah Yohana.
Kondisi ini memicu reaksi luas dari warganet, tokoh publik, hingga selebriti yang ikut mengangkat isu tersebut di akun pribadi mereka. Kampanye digital untuk menyelamatkan Raja Ampat pun terus digencarkan dengan harapan pemerintah segera mengambil langkah tegas demi menyelamatkan salah satu surga terakhir di bumi.
Jambi Kini adalah portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang wilayah Jambi dan nasional. Sebagai bagian dari PT HADIKA, Jambi Kini berfokus pada penyampaian berita yang akurat dan terpercaya. Dengan cakupan mulai dari politik hingga gaya hidup, Jambi Kini menjadi sumber informasi penting bagi pembaca yang ingin tetap update dengan perkembangan terbaru.
WHO memastikan kasus hantavirus di kapal pesiar tidak berpotensi menjadi epidemi besar. Risiko penyebaran dinilai rendah karena virus ini tidak mudah menular antar manusia.
Kasus meninggalnya dokter magang di Jambi menjadi perhatian nasional setelah Kementerian Kesehatan mengungkap dugaan adanya oknum dokter yang terlalu mengandalkan peserta internship dalam pelayanan medis. Peristiwa ini memicu evaluasi terhadap sistem pengawasan dan beban kerja dokter muda di rumah sakit.
Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026 melalui sidang isbat 19 Maret. Keputusan diambil berdasarkan hasil rukyatul hilal dan hisab.