WHO: Hantavirus di Kapal Pesiar Diperkirakan Tak Picu Epidemi Besar
WHO memastikan kasus hantavirus di kapal pesiar tidak berpotensi menjadi epidemi besar. Risiko penyebaran dinilai rendah karena virus ini tidak mudah menular antar manusia.
Memuat...
Pemuka agama Gus Miftah menjadi sorotan setelah video yang menunjukkan dirinya mengolok seorang pedagang es teh viral di media sosial. Insiden ini terjadi saat acara selawatan di sebuah pondok pesantren di Magelang pada Senin, 25 November 2024. Dalam video tersebut, Gus Miftah memanggil pedagang es teh ke tengah acara, bertanya tentang dagangannya
JAMBI KINI (NASIONAL) - Pemuka agama Gus Miftah menjadi sorotan setelah video yang menunjukkan dirinya mengolok seorang pedagang es teh viral di media sosial. Insiden ini terjadi saat acara selawatan di sebuah pondok pesantren di Magelang pada Senin, 25 November 2024. Dalam video tersebut, Gus Miftah memanggil pedagang es teh ke tengah acara, bertanya tentang dagangannya, lalu melontarkan kata-kata kasar yang diiringi tawa hadirin. Tindakannya ini memicu kecaman dari warganet dan tokoh masyarakat.
Mantan Staf Khusus Menteri Keuangan, Prastowo Yustinus, mengkritik sikap Gus Miftah melalui media sosialnya, menyebut bahwa seorang penceramah seharusnya menunjukkan empati, bukan merundung pedagang kecil. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah, KH Cholil Nafis, juga menyayangkan tindakan tersebut, mengingatkan pentingnya kematangan diri bagi seorang pemuka agama.
Publik kemudian menyoroti posisi Gus Miftah sebagai utusan khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama. Partai Gerindra, tempat Presiden Prabowo Subianto bernaung, turut mendesak Gus Miftah untuk meminta maaf kepada pedagang tersebut. Mereka menegaskan bahwa tindakan seperti itu tidak mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Prabowo.
Sementara itu, pedagang es teh yang menjadi sasaran candaan kasar hanya terdiam, membuat banyak orang bersimpati padanya. Kasus ini telah memunculkan desakan kepada Istana dan Gus Miftah untuk memberikan klarifikasi dan tindakan yang lebih bertanggung jawab.
Jambi Kini adalah portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang wilayah Jambi dan nasional. Sebagai bagian dari PT HADIKA, Jambi Kini berfokus pada penyampaian berita yang akurat dan terpercaya. Dengan cakupan mulai dari politik hingga gaya hidup, Jambi Kini menjadi sumber informasi penting bagi pembaca yang ingin tetap update dengan perkembangan terbaru.
WHO memastikan kasus hantavirus di kapal pesiar tidak berpotensi menjadi epidemi besar. Risiko penyebaran dinilai rendah karena virus ini tidak mudah menular antar manusia.
Kasus meninggalnya dokter magang di Jambi menjadi perhatian nasional setelah Kementerian Kesehatan mengungkap dugaan adanya oknum dokter yang terlalu mengandalkan peserta internship dalam pelayanan medis. Peristiwa ini memicu evaluasi terhadap sistem pengawasan dan beban kerja dokter muda di rumah sakit.
Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026 melalui sidang isbat 19 Maret. Keputusan diambil berdasarkan hasil rukyatul hilal dan hisab.