WHO: Hantavirus di Kapal Pesiar Diperkirakan Tak Picu Epidemi Besar
WHO memastikan kasus hantavirus di kapal pesiar tidak berpotensi menjadi epidemi besar. Risiko penyebaran dinilai rendah karena virus ini tidak mudah menular antar manusia.
Memuat...
Perbedaan pandangan mengenai besaran anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 mencuat setelah muncul kritik dari kalangan ekonom, sementara pemerintah masih melakukan pembahasan dan kajian kebijakan.
JAMBIKINI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang direncanakan pemerintah untuk tahun anggaran 2026 menjadi perhatian publik setelah muncul perbedaan pandangan terkait besaran anggaran yang dibutuhkan. Program ini sebelumnya disebut masuk dalam rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan alokasi mencapai ratusan triliun rupiah.
Presiden Prabowo Subianto dalam pemaparan RAPBN 2026 menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp335 triliun untuk mendukung program MBG. Program tersebut ditujukan bagi puluhan juta penerima manfaat, mulai dari peserta didik, balita, hingga ibu hamil dan menyusui, sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Namun, besaran anggaran tersebut mendapat tanggapan dari kalangan ekonom. Lili Yan Ing, ekonom sekaligus Sekretaris Jenderal International Economic Association, menilai alokasi dana MBG perlu dikaji lebih mendalam. Ia menyebut jumlah siswa di Indonesia hanya sekitar 4 persen dari total populasi, sementara program MBG difokuskan pada pemberian makan siang.
Menurutnya, dengan cakupan tersebut, kebutuhan anggaran MBG seharusnya tidak sebesar ratusan triliun rupiah. Ia memperkirakan anggaran yang lebih realistis berada di kisaran Rp8 triliun per tahun, berdasarkan perhitungan jumlah penerima dan jenis layanan yang diberikan.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa perhitungan anggaran MBG masih dalam tahap perencanaan dan pembahasan. Pemerintah juga menyatakan bahwa masukan dari akademisi dan ekonom menjadi bagian penting dalam proses evaluasi kebijakan agar program dapat berjalan efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Sejumlah pengamat menilai perbedaan pandangan ini merupakan hal wajar dalam proses perumusan kebijakan publik. Pemerintah diharapkan dapat menyusun skema MBG yang seimbang antara tujuan peningkatan gizi, kemampuan fiskal negara, serta efektivitas pelaksanaan di lapangan.
Jambi Kini adalah portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang wilayah Jambi dan nasional. Sebagai bagian dari PT HADIKA, Jambi Kini berfokus pada penyampaian berita yang akurat dan terpercaya. Dengan cakupan mulai dari politik hingga gaya hidup, Jambi Kini menjadi sumber informasi penting bagi pembaca yang ingin tetap update dengan perkembangan terbaru.
WHO memastikan kasus hantavirus di kapal pesiar tidak berpotensi menjadi epidemi besar. Risiko penyebaran dinilai rendah karena virus ini tidak mudah menular antar manusia.
Kasus meninggalnya dokter magang di Jambi menjadi perhatian nasional setelah Kementerian Kesehatan mengungkap dugaan adanya oknum dokter yang terlalu mengandalkan peserta internship dalam pelayanan medis. Peristiwa ini memicu evaluasi terhadap sistem pengawasan dan beban kerja dokter muda di rumah sakit.
Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026 melalui sidang isbat 19 Maret. Keputusan diambil berdasarkan hasil rukyatul hilal dan hisab.